Selasa, 05 Maret 2013

Silvia Hilda, Pemilik Silhouette Models & Event Management



Yang Cantik-cantik ini Harus Dijaga

Tiga belas tahun sudah melatih putra-putri Batam menjadi model-model yang menjuarai berbagi event.  Dan menjaga mereka dari image buruk.

Tembang Jawa terdengar dari dalam ruko  Trafalgar Mall No.18-19C Taman Duta Mas, Batam Center  sore itu. Dari balik pintu kaca ruko terlihat tiga bocah cilik berlenggak-lenggok sambil mengenakan jarik (dalam bahasa Jawa, yaitu kain yang dililitkan menjadi rok panjang). Mereka berjalan  diatas panggung kayu mengikuti alunan musik. Empat orang remaja perempuan juga sudah mengenakan jarik menunggu giliran latihan. Sedangkan beberapa orangtua duduk didepan panggung menonton anak-anaknya berlatih. ''Ayo, jalannya pelan-pelan ya. Ikuti musiknya,''kata Silvia Hilda pemilik

Silhouette Model & Event Management sambil mencontohkan cara berjalan dengan jarik.
Tiga bocah cilik itupun mengikuti. Ada yang sudah mahir. Berjalan dengan punggung tegap, dan  senyum tak lepas dari bibir mungilnya. Namun ada juga sesukanya. Saat Silvia memperbaiki suara musik di tape, salah satu bocah cilik itu berhenti lalu berlari kearah  whiteboard dan asyik menggambar. Silvia pun bergegas membopong siswi ciliknya itu kembali latihan. Lucunya, mereka nurut saja, tidak ada yang nangis atau mengeluh capek.
Suasana heboh, seperti itu masih juga  terlihat saat giliran empat remaja perempuan naik panggung. Ocehan, kritikan, bahkan omelan terdengar dari orangtua model. Lantaran, anaknya tidak juga bisa berjalan lamban mengikuti alunan musik Jawa. ''Katanya mau jadi model, ya harus tanggung resikonya. Harus mau capek,''kata Eva Devlina, ibunda Intan, yang juga istri dari Ahmad Mipon, seorang pengusaha di Batam.
Intan memang berulangkali berjalan terburu-buru tanpa mengikuti musik. Sedangkan bahunya juga tidak bisa tegap. Silvia akhirnya kedalam ruangan, dan mengambil sebuah besi yang kemudian diselipkan diantara ketiak Intan. ''Pake ini ya untuk melatih bahumu supaya tetap tegak,''kata Silvia pada Intan yang tersenyum malu.
Selesai mengatur Intan, mata Silvia sudah ke muridnya  yang lain. Buru-buru, ia mendekati siswi lainnya yang sedang menuruni tangga. ''Aduh, jangan begitu turun tangganya. Nanti kamu jatuh,'' kata Silvia sambil mencontohkan cara menuruni tangga dengan ujung kaki menyentuh anak tangga terlebih dahulu. Selama latihan, Silvia memang tidak pernah berhenti mengoreksi dan mengarahkan muridnya. ''Saya bicara seperti ini bukan marah. Justru kalau saya diam dan muka masem. Itu tandanya saya sudah marah. Dan murid-murid saya sudah tahu kebiasaan saya itu,''kata Silvia yang sudah mengajar  1000an murid.
Silvia mengaku, karena hobi mengajar, membuat dirinya menjadi lebih sabar dalam menghadapi anak muridnya. 
Tak terasa Silhouette, kata Silvia, sudah berusia 13 tahun. Padahal dulu awalnya, karena tidak diperbolehkan bekerja di kantoran lagi. ''Padahal sebelumnya bekerja sebagai konsultan di perusahaan kosmetik Internasional juga ngajar di sekolah pengembangan diri milik teman di Semarang. Lima tahun juga kerja kantoran. Tapi sejak pindah ke Batam tahun 1999, saya gak boleh kerja lagi,''kenang istri dari Gata Guna Adi Sapta, ST.
Tapi, keinginannya begitu kuat. Ia ingin sekali membagi ilmu modelling yang dimilikinya. Silvia akhirnya diperbolehkan oleh suaminya membuka sekolah pengembangan pribadi dan modelling . Tepat tanggal 1 September 2000, sekolah bernama Silhouette dibuka di rumahnya. ''Satu tahun juga saya buka di rumah, kemudian pindah ke Nagoya, lalu ke Batam Center Mall, dan terakhir di Dutamas,''kata Silvia yang sudah menekuni dunia modelling sejak umur 5 tahun.
Silvia mengaku bersyukur bisa mendirikan lembaga pelatihan model di Batam. Karena, secara tak langsung ia ikut menjaga wanita-wanita cantik di Batam dari hal-hal tidak baik. ''Apalagi Batam, masih terkenal dengan wisata esek-eseknya. Saya berusaha menjaga anak-anak dari hal itu,''kata alumnus jurusan Professional Image Management, Carrie Academy International Singapura. Caranya, kata Silvia, ia  selalu menekankan agar setiap murid perempuannya memiliki 3 B yaitu beauty. Wanita itu harus cantik. Cantik itu akan terlihat tanpa harus memakai rok pendek, baju terbuka yang memperlihatkan belahan dada. Sedangkan b kedua adalah brain, perempuan.itu juga harus pintar. Sedangkan b ketiga, adalah behaviour, yaitu kelakuan. Yang laki-laki juga harus punya Habibi (handsome, brain jga behaviour.
''Seorang wanita atau pria tidak akan terlihat cantik atau ganteng kalau ia tidak sopan, sombong dan tinggi hati. Dalam dunia model, tiga hal itu jadi penilaian utama, ''kata Silvia yang sudah mencetak model-model yang memenangkan kejuaran putri-putrian sejak tahun 2002 hingga sekarang, baik di tingkat nasional maupun internasional. Tak heran jika setiap murid yang belajar di Silhouette harus berlatih menggenakan jarik dan musik Jawa.
''Ini adalah latihan paling dasar dan tersulit dari modelling. Karena kita belajar sabar. Kalau sudah bisa jalan menggunakan jarik, apalagi ditambah dengan high heels dijamin gak akan ada kesulitan jalan di catwalk ,''kata Silvia.
Bagi Silvia, latihan seperti ini hanya ada di Silhouette. Di sekolah model Jakarta sekalipun tidak diajarkan seperti ini.
Silvia memang merasa perlu membagi ilmunya. Karena sejak eksis sebagai model, Silvia lebih banyak menjuarai lomba putri-putrian. ''Kata guru, saya cocok untuk karakter Indonesia. Saya cocok pakai busana nasional, seperti kebaya. Alhamdulilah sudah  10 gelar putri-putrian pernah saya raih. Sejak SMA, sudah ikut kejuaraan dan meraih gelar putri Citra, putri batik putri jamu, dan masih banyak lagi,''kata Silvia.
Keinginannya hanya satu, ingin memberdayakan perempuan. Dengan memiliki ketrampilan, perempuan bisa berpenghasilan sendiri. ''Memang karir model itu waktu pendek. Dia akan berhenti menjadi model setelah menikah. Beda kondisinya jika ada di Jakarta. Karirnya bisa agak lama,''kata wanita yang baru saja menerima mahkota  kehormatan sebagai Mrs South East Asia dari International World Pageant South East Asia 2012 lalu.  Karena itu saya berusaha memberi pelatihan tak hanya modelling saja. Tapi juga pengembangan diri. Seperti belajar pengembangan kepribadian, cara berkomunikasi juga cara berhadapan dengan orang lain. Ini semua kan modal menjadi pemimpin.
Selain itu, semua murid yang ada di Silhouette tak semuanya memiliki postur seorang model. Karena menjadi model harus memiliki tinggi badan diatas 170 cm. ''Dan inilah tugas saya untuk mengarahkan mereka dalam mengembangkan bakatnya,''kata wanita asal Madiun, putra dari Alm. Drs. Soerono Soerya K, MM.
Ia pun teringat Oki Setiana Dewi, artis terkenal yang bermain  film Ketika Cinta Bertasbih. Oki, adalah salah satu muridnya. Ia belajar modelling  sejak tahun 2002 hingga 2007. Saat itu, Oki sudah kelihatan punya bakat lain.
''Alhamdulilah, Oky menjadi kebanggaan Batam. Dan menjadi inspirasi bagi anak-anak Batam,''tambah Silvia.
Satu hal lagi yang menjadi kebanggaan Silvia dua tahun ini adalah Silhouette terpilih menjadi National Director (pemegang lisensi International World Pageant South East Asia). Kewajibannya adalah memilih dan mengirimkan wakil Indonesia untuk ikut kejuaraan di Asia Tenggara dan Internasional. 
''Alhamdulilah, sejak tahun 2009, setiap kali mengirimkan, selalu menang,''tutur Silvia.
Ternyata Silvia juga peduli para perempuan dari keluarga kurang mampu. Ia membuka pelatihan spa juga kerajinan kerang setahun sekali. ''Tujuan saya supaya mereka juga punya skill. Kalau sudah punya skill, mereka bisa memiliki penghasilan,''harap Silvia.
Satu rencana lagi sedang dipersiapkan untuk  para wartawan. Ia mengaku sangat berhutang budi pada media. Silhouette bisa berkembang seperti sekarang ini karena media. ''Saya tidak bisa memberikan apa-apa. Hanya pelatihan yang bisa saya berikan. Saya ingin ajarkan para wartawan soal table manner juga padu padan pakaian. Karena wartawan sering juga diundang makan ke hotel. Karena itu perlu,''kata Silvia yang akan menyampaikan usulan ini pada calon besannya yang juga ketua Umum Lembaga Wartawan Indonesia, Inan Riau Hasibuan,SE.
Walau sedang sibuk mempersiapkan pernikahan putri sulungnya Tasya Amanta di Semarang. Silvia masih menyempatlan diri mengajar murid-murinya. ''Biasanya kalau saya berhalangan, ada instruktur. Mereka yang terpilih menjadi instruktur adalah yang pernah berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Kalau tingkat Provinsi,harus pernah menjadi juara 1,''terang Ibu dari Tasya Amanta, Muhammad Naufal Airlangga Diputra dan Tamara Calista. ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar