Sabtu, 07 Mei 2016
Karyawannya Hanya Lulusan SD
Niat awalnya ingin memberi pekerjaan pada anak-anak lulusan sekolah dasar di Batam. Supaya mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Nurbaiti rela mengajari anak-anak itu menjadi tukang masak handal dan mampu mengelola rumah makan. Baginya ada kepuasan saat karyawannya bisa diterima bekerja di hotel atau restoran besar.
"Saat itu tahun 2009, T-Poci, jualan saya masih angkringan di Graha Sulaiman, Nagoya. Tapi saya sudah punya impian itu,'' kata Nurbaiti.
'' Saya ingin menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka, makanya syarat karyawan saya hanya minimal tamatan SD dan punya identitas. Jadi mereka-yang susah mencari pekerjaan tanpa pengalaman, dididik dan dilatih disini agar punya ketrampilan lebih, '' ujar PNS di Bappeda Batam ini.
Satu tahun pertama bisnis kata Ibeth, menjadi masa-masa penuh tantangan.
Waktu buka angkringan, dapur untuk masak masih di rumah. ''Saya masak sendiri hanya dibantu pembantu di rumah. Jam 4 sore saya baru pulang kerja, langsung nyiapkan masakan. Jam 5 sore, masakan sudah diambil karyawan. Makanya selesai sholat Subuh, saya sudah harus ke pasar, lalu menyiapkan bahan yang perlu dimasak sebelum berangkat kantor. Kadang kalau Sabtu dan Minggu, saya dan suami langsung ikut jualan di angkringan. Biasanya ramai pembeli,'' kata Ibeth
Ada pengalaman lucu yang selalu diingat Ibeth. Saat itu, dia hamil muda, tidak bisa mencium bau masakan. Padahal tiap hari, harus menyiapkan masakan untuk jualan. Akhirnya, dia pakai masker setiap kali masak, Untuk mencicipi masakan ia percayakan pembantunya.
Dua tahun berjalan, usaha angkringan T-Poci milik Ibet mulai berkembang, ia mulai merintis konsep resto di ruko Baloi Indosat.
Memang bekerja sambil memiliki usaha itu tantangannya lebih berat. Ibeth mengaku pernah dalam kondisi ingin menutup bisnisnya. ''Pada saat itu tuntutan pekerjaan kantor tidak bisa ditinggal. Dan juga harus mengurus keluarga. Tetapi pada saat memikirkan nasib karyawan, saya jadi semangat. Apalagi banyak karyawan T'poci yang akhirnya bisa bekerja di hotel dan restoran yang sudah punya nama dan mendapat penghidupan lebih layak. Saya bangga, walaupun ada juga yang keluar dari resto dan masih belum berhasil,'' kata Ibeth yang kini sedang tugas belajar di Universitas Indonesia Jakarta.
Walau kini T-Poci sudah menjadi resto terkenal di bilangan Batam Center. Berkonsep sebagai tempat kongkow anak muda dan keluarga yang nyaman, Ibeth masih punya keinginan untuk lebih mengenalkan T-Poci seantero Batam. '' Pengen punya food truck yang mobile kemana-mana, supaya bisa menguasai pasar seluruh area Batam,'' kata istri Kristian Tri Gunawan, PNS Dinas Tata Kota yang menjabat sebagai Kasi Bangunan Gedung.
Saya juga ingin mewujudkan impian jangka panjang, yaitu membuka franchise di luar Batam. Karyawan-karyawan yang loyal dengan saya sejak awal berdiri bisa membuka cabang T-Poci dan menjadi bisnis pribadi. Saya ingin meningkatkan derajat kehidupan mereka. From zero to hero,'' kata Ibeth.
Memulai bisnis dengan modal awal 25 juta, dan omset kotor Rp 700-1 juta perhari. Membuat Ibeth terus berfikir untuk mengembangkan T-Poci menjadi lebih besar.
Pencapaian omset yang kadang naik dan turun, bagi Ibeth itu biasa. Tahun 2015 ini saja, terjadi penurunan yang besar.
'' Mungkin daya beli masyarakat ikut turun. Tapi omset masih seputaran Rp 1,5 juta/hari. Pendapatan agak banyak hanya weekend saja. Kalau awal-awal dulu, 1 tahun pertama cuma bisa buat ikutan makan saja. Tapi sekarang bisalah buat bayar kredit ruko,'' katanya.
Ibeth ternyata pernah punya pengalaman ditipu karyawannya sendiri.
''Uang pendapatan restoran ditilep. Dia bekerjasama dengan kasir. Saya memang pernah tidak mengontrol restoran karena harus dinas ke luar kota.
Dari pengalaman ditilep itulah, Ibeth mengaku belajar mengelola manajemen dan meningkatkan kejujuran karyawan. ''Walau gaji belum bisa memenuhi UMK, tapi saya usahakan tempat tinggal yg layak serta makan yg bergizi buat karyawan,'' kata ibu Nur Seisha T.Gunawan (15 thn), santri di Pesantren Daar Elqolam Islamic Boarding School-Tangerang, Nur Annisa N.Gunawan (10 thn), pelajar di SD Harapan Utama Batam dan Muhammad Hafuza A.Gunawan (5 thn) di playgroup Berties School House Batam. (agn)
Weekend, Ikut Kampung Tur Mangrove Yuk
Mengisi liburan tidak mesti ke luar negeri. Di Bintan juga banyak yang menarik dan layak dikunjungi. Seperti hutan mangrove atau hutan bakau, tempat ini sungguh mengasyikkan. Menyusuri rimbunnya hutan bakau dengan boat. Melihat hewan-hewan yang ada di hutan itu. Yang lebih menegangkan ketika melewati ular-ular bakau yang melilit di dahan pohon bakau. Memang ular-ular itu jauh di atas dahan, namun tetap ada ras dag did dug ketika mlewatinya.
Perjalanan makin seru ketika malam tiba, cahaya kunang-kunang menerangi perjalan tur mangrove ini. Pemandangan yang jarang terlihat ini membuat para wisatawan memilih tempat itu untuk melamar sang kekasih.
Setelah menjelajah hutan bakau, saatnya menjajal kuliner khas seafood ala nelayan. ''Dijamin lebih fresh seafoodnya. Dan sangat tradisional bumbunya. Bakal ketagihan terus,''kata Mira, owner Travller Bintan.
Petualangan belum selesai karena masih ada dua tempat tujuan lagi. Yaitu Kampoeng Sebong dan Lagoi Bay. Dua tempat ini juga menjanjikan pengalaman baru yang tak terlupakan.
Momen selama perjalanan ini akan direkam khusus oleh fotogfer. Foto-foto kenangan bisa anda koleksi. Anda juga tidak perlu bingung, karena segala informasi dijelaskan secara detail oleh tur guide. Selama perjalanan, anda akan selalu ditemani.
Ingin ikut tur ini, ajak teman Anda atau anggota keluarga yang lain untuk bersama-sama merasakan kehebohan ini. Harga paket tur ini hanya Rp 400 ribu perorang (minimal 6 orang).
Kerupuk Atom Oleh-oleh dari Anambas
Bingung mau bawa oleh-oleh apa dari Kepri? Nah, ada satu lagi camilan yang bisa
dibawa untuk oleh-oleh dari Kepulauan Riau. Namanya kerupuk Atom. Kerupuk Atom asal Tarempa,
Kabupaten Kepulauan Anambas ini berbahan baku ikan tongkol.
Di Anambas, kerupuk ini selalu hidangkan sebagai kawan lauk makan. Karena itu kerupuk atom
menjadi penganan khas yang paling banyak dikonsumsi masyarakat disana.
Bahkan ada anggapan, tak lengkap kalau tidak ada kerupuk atom.
Kerupuk atom berbahan baku ikan tongkol ini, banyak di produksi oleh masyarakat secara
sederhana. Dengan bahan baku ikan tongkol yang mudah didapat dari nelayan. Rasanya lezat dan
gurih.
Kerupuk atom Anambas adalah usaha rumahan yang diproduksi setiap hari oleh masyarakat di kota
itu. Disana, jika pesan sore, besoknya sudah bisa diambil. Karena usaha rumahan proses
pembuatannya bisa dilihat langsung. Harga kerupuk Atom Anambas Rp 15 ribu dengan berat
80 gram. Minimal order 3 bungkus plus Ongkir Rp 10.000 untuk wilayah Batam.
Selain kerupuk Atom, ada juga kerupuk ikan khas Anambas. Terbuat dari ikan segar. Enak dan
gurih. Ngembangnya juga gede. Harga kerupuk ikan Anambas ini Rp 25 ribu/bungkus dengan
Selasa, 03 Mei 2016
Luti gendang, Oleh-Oleh Favorit dari Batam
Sejak luti gendang, makanan khas Tarempa bermitra dengan b-niaga.com dan terus menerus diekpsos oleh media online Batampos.co.id. Permintaan luti dari luar kota terus meningkat.
Rata-rata setiap harinya 60-120 pcs luti dikirim dari Batam ke beberapa kota besar di Indonesia. Kebanyakan yang membeli di luar kota adalah warga Tarempa, ataupun warga Tanjungpinang dan Batam yang sudah menetap di daerah lain.
''Saya dulu lama tinggal di Tanjungpinang. Tapi sekarang sudah menetap di Bandung. Saya sudah lama ngidam kue ini. Pernah dulu nitip teman. Karena sudah kepengen lagi, saya coba , search google, dan ketemulah b-niaga.com,'' kata Inggil yang sudah menetap di Bandung.
Angga Ferdian, salah satu pegawai negeri di Lingga, juga sama dengan inggil. Ia mengaku sudah kangen luar biasa mencicipi roti goreng berisi ikan tuna ini.
Kemarin saat bertugas di Batam, sebelum kembali ke Lingga, ia memesan 80 pcs luti gendang setengah matang.
"Saya lahir di Tarempa. Kalau disana, luti adalah makanan wajib setiap sarapan pagi. Makanya mumpung ke Batam, saya order. Kebetulan saya lihat luti gendang di jual online di b-niaga.com,'' kata Angga.
Peminat luti gendang tak hanya mereka yang sudah pernah mencicipi luti gendang ini, tapi juga wisatawan yang datang ke Batam. Seperti Sandi dan salah satu peserta Rakorwil Himpunan Pengusaha Muda dari Jakarta, memesan 240 pcs lutigendang untuk oleh-oleh dari Batam. Ia bersama 3 temannya, memesan luti gendang lewat b-niaga.com.
''Karena pesawat saya berangkat jam 6 pagi, saya minta lutinya diantar malam hari. Prosesnya cepat, hanya beberapa menit saja, luti itu sudah tiba di hotel Novotel,''kata Sandi.
Luti yang bisa tahan hingga 2 hari tanpa dimasukkan ke kulkas, dan tahan hingga 1 bulan jika diletakkan di frezer, membuat para wisawatan memilih camilan ini sebagi oleh-oleh dari Batam. ''Jika ingin dimakan, cukup digoreng lagi. Jadi rasanya lebih enak,'' kata Heri, pemiiik Mie Tarempa di Batam Center dan Seipanas ini.
Dengan b-niaga, anda tidak perlu repot keliling mencari oleh-oleh dari Batam. Karena cukup dari laptop dan gadget, beragam oleh-oleh sudah ada di diantar ke alamat. (agn)
Sabtu, 18 Januari 2014
Maria Mediatrix, Pengajar Sukarela di Pulau Bertam dan Penceramah Agama di Pulau-pulau Kecamatan Belakang Padang
Lima kilo beras, beberapa bungkus kopi, teh juga dua kilo beras sudah dalam bungkusan kantong plastik. Yang lainnya, dua lusin buku tulis, pensil dan pulpen juga sudah ada di kantong plastik terpisah. Sambil menunggu ojek langganan datang, Maria Mediatrix menutup celah-celah pintu bagian bawah dengan lipatan kertas. ''Sudah terlalu sering ular masuk kedalam rumah. Kebanyakan ular kobra. Besarnya selengan kita ini, ''kata Maria sambil menunjuk lengannya.
Rumah kapling yang belum diplester ini memang langsung bersebelahan dengan hutan lindung di Tiban Kampung. Maria sudah menempati rumah ini sejak tahun 2006. Sejak bercerai dengan suaminya, ia menjadi orangtua tunggal. Dan hanya tinggal bertiga saja dengan dua putranya, M. Umar (8) dan M.Hamzah (7). Kondisi Maria yang hanya menjadi penceramah di pulau-pulau membuat ia belum mampu memperbaiki rumahnya lagi. ''Dulu triplek aja, alhamdulilah sekarang sudah batu. Walaupun belum diplester. Namun sudah lebih baik. Tanah ini pun hibah dari pemilik tanah di Tiban Kampung ini. Dulu saya berniat membeli dengan mencicil, tapi alhamdulilah saya diberi tanah ini. Ukurannya 10x10 m,''kata Maria .
Rumah tanpa kamar tidur itu, dipenuhi tumpukan baju-baju dihampir sudut ruangan. Karena tidak ada lemari yang bisa dipakai untuk menyimpan pakaian-pakaian itu. Kompor minyak tanah juga panci-panci diletakkan begitu saja didepan kamar mandi. Tak jauh dari itu, dua kasur tipis digelar dengan spray lusuh. Sudah hampir dua minggu ini, Maria meninggalkan rumah dan menitipkan anaknya pada temannya yang juga sesama anggota Persatuan Mubaliq Batam di Batuaji. ''Makanya rumah berantakan sekali. Saya tinggal dua minggu ke Singapura untuk promosikan album mini saya. Alhamdulilah 50 buah CD yang saya bawa habis,''kata Maria yang baru merilis mini album berjudul Ayangku.
Sejak albumnya diluncurkan bulan Februari lalu, Maria sangat sibuk. Ia mendatangi semua kenalannya untuk menawarkan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Karena ia yakin, hanya dengan menjual CD ia dapat segera membangun Islamic Center di pulau Bertam. ''Sudah satu bulan ini tukang ngerjain tiang pancang ini. Nantinya, tiang panjang akan ditambah. Selanjutnya akan dibuat rumah panggung dengan luas bangunan sampai 10x10m,''kata Maria sambil menunjuk batas bangunannya.
Kebetulan hari itu, Selasa (30/7) laut sedang surut. Maria bergegas turun bersama dua anaknya dari jalan pelantar. Ia ingin melihat langsung tiang-tiang pondasi Hanif Center, yaitu bangunan yang menjadi pusat Islam suku laut di kecamatan Belakang Padang. Baru beberapa langkah melewati pelantar di Pulau Bertam yang kebanyakan sudah lapuk dan mulai bergoyang ketika dilewati, kaki Umar, putra sulungnya terperosok kedalam sela-sela kayu pelantar. Ia pun menjerit kesakitan karena kakinya tidak bisa dikeluarkan. Melihat kejadian itu, seorang gadis pulau Bertam yang baru saja berenang di laut, segera mengambil inisiatif dengan mencabut kayu yang menjepit kaki bocah.
Terperosoknya kaki Umar adalah kejadian kedua yang dialami anak-anak Maria selama mengikuti dirinya mengajar dan memberi ceramaha agama ke pulau-pulau. Sebelumnya ketika Umar masih berusia 6 tahun, anak Maria ini pernah tercebur ke laut di pulau Bertam. Maria memang selalu membawa anak-anaknya saat berdakwah. ''Dari kecil, anak-anak sudah saya bawa-bawa. Pengecualian saja, kalau kondisi sedang angin kencang, atau sekolah, mereka saya titipkan di panti asuhan. Tapi sekarang tidak lagi, karena setiap kali pergi ke pulau, saya pilih hari libur, jadi anak-anak bisa ikut. Tapi kemarin 2 minggu ke Singapura jualan kaset, anak-anak terpaksa saya titip pada ustad Nahnu, teman sesama anggota Persatuan Mubaliq Batam yang tinggal di Kemuning, Tanjungpiayu.
Maria pun melanjutkan niatnya untuk melihat pancang-pancang yang tertanam di laut. Setelah memastikan kaki putranya tidak ada masalah, Maria, seorang Mualaf asal Maluku Tenggara ini mulai turun ke laut. Pasir laut itupun langsung melekat di sandal jepit yang dikenakan Maria. Langkahnyapun makin melambat karena menahan beban pasir yang menempel di sandal. Akhirnya, Maria tiba juga di lokasi tempat tiang-tiang bakal bangunan Hanif Center. ''Baru tiang saja sudah habis 15 jutaan. Uangnya dari penjualan album dan bantuan teman. Dari Singapura kemarin, alhamduliah, bisa bawa uang untuk THR murid-murid saya juga untuk bayar tukang.''kata wanita yang berusia 41 tahun ini.
Rencananya, dengan adamgn hanif center ini, bisa digunakan utk tempat ibadah, belajar, krn org suku laut gak suka ke darat, sukanya dekat dgn laut. Nantinya majelis taklim al hanif
Wirid sebulan sekali datang ke bertam, spy nanti bisa jadi tempat wisata.
Ibu-ibu wirid di pulau-pulau di seluruh kecamatan belakang padang, spt p. Bertam, pulau sarang, pulau pemping, mongkol, labon. Seja
jamiah islamic center di gelang, Singapura. Pusat islam di singapura. Pejabat di islamic center, Ustad M.Nur. Orangtua Habib Taher salah satu pendiri islamic center, M. Zailani, yg membantu penjualan kaset. 50 kaset terjual dgn harga antara 10-20 dolar Singapura. Dua minggu disana, promosi kaset. Terakhir ceramah di pulau sarang. Judul album ayangku, ciptaan lagu sendiri, mini album 6 lagu. Peluncuran pertama, diedarkan di batam tgl 14 februari.
Hanif center, sdh dibangun 1 bln sblm puasa, buat pondasi. Dgn biaya 15 jta, uang dari penjualan album dan bantuan teman. Pulang dari singapura, bagi2 thr ke anak2 juga bayar tukang. Rencananya dgn hanif center ini, bisa digunakan utk tempat ibadah, belajar, krn org suku laut gak suka ke darat, sukanya dekat dgn laut. Nantinya majelis taklim al hanif
Wirid sebulan sekali datang ke bertam, supaya nanti bisa jadi tempat wisata.
Ibu-ibu wirid di pulau-pulau di seluruh kecamatan belakang padang, spt p. Bertam, pulau sarang, pulau pemping, mongkol, labon. Sejak tahun 2009. Biasa datang ke RW atau RT, tinggal disitu. Atau datang ke tempat wirid aktif. Kalo mulai ngajar anak2 tahun 2012 dgn jumlah 13 anak. Udh lama pengen bangun disini. Cuman masing2 kelompok suka bentrok dan iri hati. Sempat dilaporkan ke pak lurah. Mrk gak suka orang luar datang, mengajar bahasa inggris saja ditentang dgn salah satu guru. Padahal ngajar diluar jam sekolah, apalagi ada anak yg putus sekolah. Padahal buat islami utk orang suka laut. Yg ada pulau bertam ada 148 kk. Rumah2 dibantu Menteri Sosila RI bahan bangunan senilai 10 juta.
Mau terus promo album, sampe ke brunai. ''Selalu minta sama Allah, diberi kemudahan. Dan memang selalu ditunjukkan jalan harus kemana.
Ukuran 10 x 10 m. Sebulan ini baru 9 pancang. Tukang disini mau tetap kerja, gak apa gak puasa. Tapi maria larang, minta abis puasa aja.
Nuntan (40), yg bantu jaga bahan2 material, anak 7 orang. 2 tahun cucunya randi. Bahri (80), tinggal disini dari tahun 1989. Tinggal dengan anak dan menantu.
Ini panggilan hati. Ingin jadi pusat islam suku laut di kecamatan belakang padang. Sudah bicara dengan wako, tapi blm ada respon. Tidak ada ambil keuntungan dari balik ini. Niatnya bekerja utk agama Allah aja. Caranya beda2, sy pake album, yg kumpulkan. Banyak jg yg gak suka.
Anggota persatuan mubaliq batam th 2008. Pertama masuk ke batam, sdh berfikir utk berbuat sesuatu. Hanif artinya(condong pada kebenaran).
20 tahun gak pernah ketemu orangtua. Sejak menjadi mualaf. Gak dianggap anak lagi. Fransicus, pensiunan angkatan udara dan ursula margaret tinggal di Bogor. Kepengen ketemu tapi takut diusir. Sering nangis ingat bapak. Pernah ajak anak2 kesana tapi gak diacuhin.
Jadi orangtua tunggal sejak 8 tahun lalu. Sering dititipi ke ustad nahnu di kemuning, tanjungpiayu. Sekarang tinggal di tiban kampung, rumah paling ujung berbatasan dengan hutan lindung.
Dia hanya seorang wanita, ibu dua anak. Berani melintas laut dengan pompong kecil demi mencerdaskan anak-anak suku laut.
Lima orang pria baru saja keluar dari laut. Langkah-langkah mereka berat, karena menarik selembar besi tua yang sudah karatan. Lempengan besi bekas kapal itu tak seberapa lebarnya, tapi cukup membuat wajah kelima orang itu sumringah. Tak lama, suara mesin pemotong besi sudah terdengar di pelabuhan Pandan Bahari Tanjunguncang siang itu. Suara yang menusuk telinga itu tak membuat Maria Mediatrix yang sejak tadi duduk di pelantar itu terganggu. Ia tetap tenang, sambil matanya melihat jauh ke pulau Bertam. Sudah hampir setengah jam, wanita yang menjadi guru sukarela di pulau Bertam itu duduk menunggu pompong yang akan menjemputnya. ''Tadi sudah nelpon pak Muhtar. Saya memang selalu dibantu pak RT untuk antar dan jemput ke pulau,''kata Maria pada Batam Pos, Selasa (9/10) di pelantar pelabuhan Pandan Bahari.
Lima belas menit berlalu, pompong Pak RT yang ditunggu-tunggu tak juga kelihatan. Tiba-tiba ponsel Maria berbunyi, bertanda sms masuk. ''Bu, nanti bapak jemput sekalian antar teri,''kata Maria membaca sms dari Yayang, anak Muhtar.
Maria pun kembali menunggu di pelantar. Karena yang ditunggu tidak juga datang, Maria pun berinisiatif menyewa pompong nelayan yang sejak tadi bersandar di pelantar. Sebuah pompong kecil akhirnya mau mengantarkan Maria ke pulau yang dikenal sebagai tempat tinggalnya orang-orang Suku Laut.
Pompong yang hanya berjarak sejengkal dari air laut itu membawa Maria dalam hitungan dua puluh menit saja ke pulau Bertam. ''Saya sudah biasa seperti ini. Keliling dari satu pulau ke pulau lain ngasih ceramah agama. Tapi sejak badan saya ngak kuat lagi kena angin laut, saya hanya pergi ke pulau Bertam, ngajar anak-anak juga pengajian dengan ibu-ibunya,''kata Maria di atas pompong.
Empat tahun sudah, Maria bolak-balik Tanjunguncang-Pulau Bertam. Mengajari anak-anak bahasa Inggris. Maria mengaku ingin sekali memberi sesuatu yang beda dari yang ada saat ini. ''Saya asli orang Maluku Tenggara. Di daerah kami, bahasa Inggris dan bahasa Belanda menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Makanya Bahasa Inggris saya cukup baik. Inilah jadi modal saya mengajari anak-anak di pulau,''kata wanita yang kakeknya seorang Belanda.
Siang itu, tak seperti biasa. Maria harus menunggu murid-muridnya di rumah Muhtar, RT pulau Bertam. ''Biasanya saya masih ditengah laut, mereka sudah menunggu. Ada dua puluhan anak yang belajar dengan saya. Mulai dari umur 5 tahun sampai 12 tahun,''kata wanita yang tidak lulus SMA namun sekolah di pesantren.
''Lagi pada di acara pengantin. Makanya anak-anak belum datang. Sebentar lagi dipanggil,'' kata Nurmadiyah, istri Muhtar sambil menghitung uang ribuan dari hasil menjual bers bulog.
Acara pernikahan menjadi hiburan penduduk pulau Bertam, pulau Gara, pulau Linga dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Mereka datang berbondong-bondong melihat hiburannya. Di pelantar pulau Bertam saja, lalu lalu pompong membawa penduduk sekitar. Mereka datang dengan pakaian ala kadarnya. Ada yang mengenakan celana pendek dipadu kaos u can see, baju tidur juga baju rumah yang warnanya lusuh.
Menjelang pukul 15.00 WIB, satu persatu murid Maria berdatangan. Bocah-bocah berkulit hitam legam masuk kedalam rumah Muhtar sambil membawa buku tulis dan pensil. Fitri (11)datang dengan adiknya, Lara (5). Menyusul Mona (7) datang hanya mengenakan kaos singlet kumal. Juga Lusiana (8). Ratna (11) menjadi murid terakhir yang datang.
Bocah berbadan subur ini baru duduk di kelas 2 SD walau umurnya 11 tahun. Di ruang tengah rumah panggung Muhtar itu, Maria mengajak lima muridnya duduk. Menghadap papan tulis yang baru dua minggu ini dibelikan BP Kawasan. ''Saya minta bantuan ke OB. Karena kasihan lihat anak-anak. Sekarang mereka makin semangat belajar. Berebut menulis di whiteboard,''kata wanita kelahiran tahun 1972 ini. Maria pun bercerita bahwa ia selalu membeli karton untuk dijadikan papan tulis. Karton itu dibelinya dengan harga Rp8000. Setiap kali mengajar, setiap kali itu juga, karton baru harus disediakan Maria. Anak-anak juga hanya diberi selembar kertas folio untuk menulis materi yang diajarkan.
Maria memang harus mengeluarkan uang sendiri. Bahkan transportasi pun ia tanggung. ""Ya minimal Rp50 ribu untuk ongkos pulang pergi. Naik angkot dari rumah saya di tiban kampung sampai ke Tanjunguncang. Kemudian ongkos pompong. Saya sering ngasih untuk ganti uang minyak pompong,''kata wanita yang menjadi mualaf sejak duduk di bangku SMU.
Maria yang tidak memiliki pekerjaan tetap ini yakin tetap bisa menjalankan misinya. Ia percaya rezeki pasti datang. Maria memang dikenal sebagai ustazah, pemberi ceramah agama di pengajian ibu-ibu.
Seminggu dua kali, Maria pasti turun ke pulau Bertam. Dua anaknya , Franli Leonardo (9) dan M. Omensyah (8) dititipkan di panti asuhan di Tiban.
Dulu sewaktu kedua anaknya masih kecil, yang bayi dititipkan pada pak RT di Tiban Kampung, anaknya sulungnya dibawa. ''Si abang saya gendong. Waktu itu umurnya masih satu tahun. Anak saya pernah kecebur laut. Dia tiba-tiba jatuh . Untungnya ada yang cepat nolong. Anak saya ngak apa-apa. Sekarang, mereka tidak pernah saya ngak ajak lagi. Saya titipkan saja di panti asuhan di Tiban,''kata Maria yang kini menjadi single parent sejak suaminya meninggal dunia.
Sore itu, si bungsu tiba-tiba menelpon. Dari obrolan di telpon itu, kedua anaknya minta Maria segera menjemput. "Si adek nangis, katanya udah kangen maminya,''kata Maria.
Maria mengaku sudah menitipkan anaknya sejak dua hari. Karena ia harus ke pulau Bertam mengurus surat penunjukkan dirinya menjadi pengajar di pulau Bertam dan menginap di sana.
''Bu ayo ajarin nyanyi,''kata Lara tiba-tiba membuyarkan lamunan Maria. Mariapun segera bersenandung. Sebuah lagu ciptaannya sendiri ia ajari pada kelima siswanya. ''Nanti kalian siap-siap ikut rekaman ya,''kata Maria pada siswanya.
Sudah beberapa bulan ini Maria sedang menyiapkan album lagu. Ia ciptakan sendiri baik itu kata-katanya juga musiknya. Ada enam lagu yang selesai di aransemen. Seperti Sayangku, bulan bintang, doa bunda, ya Allah, biarkan ku pergi dan kekasihku. ''Lagu-lagu ini sudah bisa didengar. Karena sudah direkam di cd,''kata Maria sambil memperlihatkan sekeping cd.
Nantinya kata Maria, anak-anak suku laut akan ikut bernyanyi. Dari hasil penjualan album ini akan disumbangkan untuk pendidikan anak-anak suku laut. Sekarang, kata Maria, ia akan konsentrasi dulu di pulau Bertam, selanjutnya ia juga akan mengajar anak-anak di pulau Gara dan Lingka. "Kan jaraknya juga ngak jauh dari pulau Bertam. Kasihan kan kalo tidak ada yang memberi pelajaran tambahan pada mereka.
Maria mengaku sedih melihat keseharian anak-anak suku laut. Banyak yang putus sekolah. Rata-rata sekolah dasar saja. Tapi ada juga yang tidak sekolah. Mereka lebih memilih cari ikan. ''Kalau Magrib, mereka sulit diajak belajar atau mengaji. Mereka lebih memilih melaut. Biasanya udah pada bawa alat pancing,''kata Maria.
Apalagi ditambah kondisi listrik yang belum ada. ''Genset saya sudah rusak. Sudah tiga tahun dibeli. Dan sudah beberapakali diperbaiki. Kalau lagi bagus, genset itu hanya bisa menerangi 16 rumah saja. Itupun sampai pukul 12 malam,''kata Muhtar yang sudah menetap di darat sejak tahun 1984. Setiap warga yang ingin rumahnya diterangi listrik membayarkan uang sebesar Rp5000 perhari.
Kadang, disaat anak-anak sedang belajar, genset tiba-tiba rusak. Muhtar mengaku tak punya pilihan lagi. Untuk membeli genset baru, ia mengaku belum punya dana lagi. Ia berharap ada pihak-pihak yang berbaik hati dan perhatian pada pendidikan anak-anak suku laut mau menyumbangkan genset ke pulau Bertam.
Saat ini di pulau Bertam, jumlah kepala keluarga mencapai 50 kk. Kebanyakan tinggal di tepi pantai dengan mendirikan rumah panggung. Rumah-rumah tersebut dibangun oleh Otorita Batam tahun 1998.
''Waktu itu pak Soedarsono yang bangun rumah-rumah orang suku laut disni. Baik itu yang di pulau Gara, Bertam juga Lingka),''kata Muhtar. Kondisi rumah yang dibangun OB itu ada yang sudah rusak. Tapi ada yang tetap ditempati. Kalau sekarang penduduk di pulau Gara sekitar 50 kk, di pulau Lingka 50 kk. Mereka semua orang suku laut, yang tadinya tinggal di perahu. Muhtar bahkan masih ingat saat-saat tinggal di perahu. Berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Berbeda dengan Nurmadiyah, istrinya, yang sudah mulai suka tinggal di darat saat remaja. Ia senang ketika ada yang mengajarinya menjahit dan membuat kue. ''Saya ingin maju,''kata ibu dari Yayang (30) dan Azan (23), guru honorer di SD 006 Pulau Bertam. ***
Kelamaan Ditinggal, Dilupakan Anak-anak
Ustadz Luqman Rifai, Pendamping haji dan umroh
Selembar kain ihram berwarna putih itu dililitkan perlahan menutupi pinggang hingga mata kakinya. Mirip seperti memakai sarung pada umumnya. Selesai cara pertama, ia mencontohkan lagi cara pemakaian ihram kedua. Puluhan jamaah haji plus Zulindo yang ada di dalam ruangan itu pun memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Hening sejenak saja, namun tak lama kembali terdengar suara-suara. ''Ulang lagi ustadz. Ulang lagi,''kata jamaah haji serempak.
Selembar kain ihram berwarna putih itu dililitkan perlahan menutupi pinggang hingga mata kakinya. Mirip seperti memakai sarung pada umumnya. Selesai cara pertama, ia mencontohkan lagi cara pemakaian ihram kedua. Puluhan jamaah haji plus Zulindo yang ada di dalam ruangan itu pun memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Hening sejenak saja, namun tak lama kembali terdengar suara-suara. ''Ulang lagi ustadz. Ulang lagi,''kata jamaah haji serempak.
Tidak Ada Kata Berhenti Mengajarkan Agama Allah
Hj. Emmy Warsih, Pelopor Majelis Taklim di Kepri
Ketika sakit tak membuatnya menyerah. Ia tetap membuat kegiatan keagamaan, walau dari rumah.
Keriput di wajahnya makin terlihat jelas. Bobot tubuhnya juga banyak menyusut . Berjalan tidak secepat dulu lagi. Kakinya pun mudah sakit karena pengaruh diabetes. Tak heran jika anaknya tidak memperbolehkan lagi ia bepergian sendiri. Naik turun angkot seperti dulu. Kini hari-harinya lebih banyak di rumah. Membaca buku kesukaannya, mengaji, sholat juga bermain dengan cucu.
Ketika sakit tak membuatnya menyerah. Ia tetap membuat kegiatan keagamaan, walau dari rumah.
Keriput di wajahnya makin terlihat jelas. Bobot tubuhnya juga banyak menyusut . Berjalan tidak secepat dulu lagi. Kakinya pun mudah sakit karena pengaruh diabetes. Tak heran jika anaknya tidak memperbolehkan lagi ia bepergian sendiri. Naik turun angkot seperti dulu. Kini hari-harinya lebih banyak di rumah. Membaca buku kesukaannya, mengaji, sholat juga bermain dengan cucu.
Langganan:
Postingan (Atom)



