Lima
kilo beras, beberapa bungkus kopi, teh juga dua kilo beras sudah dalam
bungkusan kantong plastik. Yang lainnya, dua lusin buku tulis, pensil
dan pulpen juga sudah ada di kantong plastik terpisah. Sambil menunggu
ojek langganan datang, Maria Mediatrix menutup celah-celah pintu bagian
bawah dengan lipatan kertas. ''Sudah terlalu sering ular masuk kedalam
rumah. Kebanyakan ular kobra. Besarnya selengan kita ini, ''kata Maria
sambil menunjuk lengannya.
Rumah kapling yang belum diplester ini
memang langsung bersebelahan dengan hutan lindung di Tiban Kampung.
Maria sudah menempati rumah ini sejak tahun 2006. Sejak bercerai dengan
suaminya, ia menjadi orangtua tunggal. Dan hanya tinggal bertiga saja
dengan dua putranya, M. Umar (8) dan M.Hamzah (7). Kondisi Maria yang
hanya menjadi penceramah di pulau-pulau membuat ia belum mampu
memperbaiki rumahnya lagi. ''Dulu triplek aja, alhamdulilah sekarang
sudah batu. Walaupun belum diplester. Namun sudah lebih baik. Tanah ini
pun hibah dari pemilik tanah di Tiban Kampung ini. Dulu saya berniat
membeli dengan mencicil, tapi alhamdulilah saya diberi tanah ini.
Ukurannya 10x10 m,''kata Maria .
Rumah tanpa kamar tidur itu,
dipenuhi tumpukan baju-baju dihampir sudut ruangan. Karena tidak ada
lemari yang bisa dipakai untuk menyimpan pakaian-pakaian itu. Kompor
minyak tanah juga panci-panci diletakkan begitu saja didepan kamar
mandi. Tak jauh dari itu, dua kasur tipis digelar dengan spray lusuh.
Sudah hampir dua minggu ini, Maria meninggalkan rumah dan menitipkan
anaknya pada temannya yang juga sesama anggota Persatuan Mubaliq Batam
di Batuaji. ''Makanya rumah berantakan sekali. Saya tinggal dua minggu
ke Singapura untuk promosikan album mini saya. Alhamdulilah 50 buah CD
yang saya bawa habis,''kata Maria yang baru merilis mini album berjudul
Ayangku.
Sejak albumnya diluncurkan bulan Februari lalu, Maria
sangat sibuk. Ia mendatangi semua kenalannya untuk menawarkan lagu-lagu
ciptaannya sendiri. Karena ia yakin, hanya dengan menjual CD ia dapat
segera membangun Islamic Center di pulau Bertam. ''Sudah satu bulan ini
tukang ngerjain tiang pancang ini. Nantinya, tiang panjang akan
ditambah. Selanjutnya akan dibuat rumah panggung dengan luas bangunan
sampai 10x10m,''kata Maria sambil menunjuk batas bangunannya.
Kebetulan
hari itu, Selasa (30/7) laut sedang surut. Maria bergegas turun bersama
dua anaknya dari jalan pelantar. Ia ingin melihat langsung tiang-tiang
pondasi Hanif Center, yaitu bangunan yang menjadi pusat Islam suku laut
di kecamatan Belakang Padang. Baru beberapa langkah melewati pelantar
di Pulau Bertam yang kebanyakan sudah lapuk dan mulai bergoyang ketika
dilewati, kaki Umar, putra sulungnya terperosok kedalam sela-sela kayu
pelantar. Ia pun menjerit kesakitan karena kakinya tidak bisa
dikeluarkan. Melihat kejadian itu, seorang gadis pulau Bertam yang baru
saja berenang di laut, segera mengambil inisiatif dengan mencabut kayu
yang menjepit kaki bocah.
Terperosoknya kaki Umar adalah kejadian kedua yang dialami anak-anak Maria selama mengikuti dirinya mengajar dan memberi ceramaha agama ke pulau-pulau. Sebelumnya
ketika Umar masih berusia 6 tahun, anak Maria ini pernah tercebur ke
laut di pulau Bertam. Maria memang selalu membawa anak-anaknya saat
berdakwah. ''Dari kecil, anak-anak sudah saya bawa-bawa. Pengecualian
saja, kalau kondisi sedang angin kencang, atau sekolah, mereka saya
titipkan di panti asuhan. Tapi sekarang tidak lagi, karena setiap kali
pergi ke pulau, saya pilih hari libur, jadi anak-anak bisa ikut. Tapi
kemarin 2 minggu ke Singapura jualan kaset, anak-anak terpaksa saya
titip pada ustad Nahnu, teman sesama anggota Persatuan Mubaliq Batam
yang tinggal di Kemuning, Tanjungpiayu.
Maria pun melanjutkan
niatnya untuk melihat pancang-pancang yang tertanam di laut. Setelah
memastikan kaki putranya tidak ada masalah, Maria, seorang Mualaf asal
Maluku Tenggara ini mulai turun ke laut. Pasir laut itupun langsung
melekat di sandal jepit yang dikenakan Maria. Langkahnyapun makin
melambat karena menahan beban pasir yang menempel di sandal. Akhirnya,
Maria tiba juga di lokasi tempat tiang-tiang bakal bangunan Hanif
Center. ''Baru tiang saja sudah habis 15 jutaan. Uangnya dari penjualan
album dan bantuan teman. Dari Singapura kemarin, alhamduliah, bisa bawa
uang untuk THR murid-murid saya juga untuk bayar tukang.''kata wanita
yang berusia 41 tahun ini.
Rencananya, dengan adamgn hanif center
ini, bisa digunakan utk tempat ibadah, belajar, krn org suku laut gak
suka ke darat, sukanya dekat dgn laut. Nantinya majelis taklim al hanif
Wirid sebulan sekali datang ke bertam, spy nanti bisa jadi tempat wisata.
Ibu-ibu
wirid di pulau-pulau di seluruh kecamatan belakang padang, spt p.
Bertam, pulau sarang, pulau pemping, mongkol, labon. Seja
jamiah
islamic center di gelang, Singapura. Pusat islam di singapura. Pejabat
di islamic center, Ustad M.Nur. Orangtua Habib Taher salah satu pendiri
islamic center, M. Zailani, yg membantu penjualan kaset. 50 kaset
terjual dgn harga antara 10-20 dolar Singapura. Dua minggu disana,
promosi kaset. Terakhir ceramah di pulau sarang. Judul album ayangku,
ciptaan lagu sendiri, mini album 6 lagu. Peluncuran pertama, diedarkan
di batam tgl 14 februari.
Hanif center, sdh dibangun 1 bln sblm
puasa, buat pondasi. Dgn biaya 15 jta, uang dari penjualan album dan
bantuan teman. Pulang dari singapura, bagi2 thr ke anak2 juga bayar
tukang. Rencananya dgn hanif center ini, bisa digunakan utk tempat
ibadah, belajar, krn org suku laut gak suka ke darat, sukanya dekat dgn
laut. Nantinya majelis taklim al hanif
Wirid sebulan sekali datang ke bertam, supaya nanti bisa jadi tempat wisata.
Ibu-ibu
wirid di pulau-pulau di seluruh kecamatan belakang padang, spt p.
Bertam, pulau sarang, pulau pemping, mongkol, labon. Sejak tahun 2009.
Biasa datang ke RW atau RT, tinggal disitu. Atau datang ke tempat wirid
aktif. Kalo mulai ngajar anak2 tahun 2012 dgn jumlah 13 anak. Udh lama
pengen bangun disini. Cuman masing2 kelompok suka bentrok dan iri hati.
Sempat dilaporkan ke pak lurah. Mrk gak suka orang luar datang, mengajar
bahasa inggris saja ditentang dgn salah satu guru. Padahal ngajar
diluar jam sekolah, apalagi ada anak yg putus sekolah. Padahal buat
islami utk orang suka laut. Yg ada pulau bertam ada 148 kk. Rumah2
dibantu Menteri Sosila RI bahan bangunan senilai 10 juta.
Mau terus
promo album, sampe ke brunai. ''Selalu minta sama Allah, diberi
kemudahan. Dan memang selalu ditunjukkan jalan harus kemana.
Ukuran
10 x 10 m. Sebulan ini baru 9 pancang. Tukang disini mau tetap kerja,
gak apa gak puasa. Tapi maria larang, minta abis puasa aja.
Nuntan
(40), yg bantu jaga bahan2 material, anak 7 orang. 2 tahun cucunya
randi. Bahri (80), tinggal disini dari tahun 1989. Tinggal dengan anak
dan menantu.
Ini panggilan hati. Ingin jadi pusat islam suku
laut di kecamatan belakang padang. Sudah bicara dengan wako, tapi blm
ada respon. Tidak ada ambil keuntungan dari balik ini. Niatnya bekerja
utk agama Allah aja. Caranya beda2, sy pake album, yg kumpulkan. Banyak
jg yg gak suka.
Anggota persatuan mubaliq batam th 2008. Pertama
masuk ke batam, sdh berfikir utk berbuat sesuatu. Hanif
artinya(condong pada kebenaran).
20 tahun gak pernah ketemu
orangtua. Sejak menjadi mualaf. Gak dianggap anak lagi. Fransicus,
pensiunan angkatan udara dan ursula margaret tinggal di Bogor. Kepengen
ketemu tapi takut diusir. Sering nangis ingat bapak. Pernah ajak anak2
kesana tapi gak diacuhin.
Jadi orangtua tunggal sejak 8 tahun
lalu. Sering dititipi ke ustad nahnu di kemuning, tanjungpiayu. Sekarang
tinggal di tiban kampung, rumah paling ujung berbatasan dengan hutan
lindung.
Dia hanya seorang wanita, ibu dua anak. Berani melintas laut dengan pompong kecil demi mencerdaskan anak-anak suku laut.
Lima
orang pria baru saja keluar dari laut. Langkah-langkah mereka berat,
karena menarik selembar besi tua yang sudah karatan. Lempengan besi
bekas kapal itu tak seberapa lebarnya, tapi cukup membuat wajah kelima
orang itu sumringah. Tak lama, suara mesin pemotong besi sudah terdengar
di pelabuhan Pandan Bahari Tanjunguncang siang itu. Suara yang menusuk
telinga itu tak membuat Maria Mediatrix yang sejak tadi duduk di
pelantar itu terganggu. Ia tetap tenang, sambil matanya melihat jauh ke
pulau Bertam. Sudah hampir setengah jam, wanita yang menjadi guru
sukarela di pulau Bertam itu duduk menunggu pompong yang akan
menjemputnya. ''Tadi sudah nelpon pak Muhtar. Saya memang selalu dibantu
pak RT untuk antar dan jemput ke pulau,''kata Maria pada Batam Pos,
Selasa (9/10) di pelantar pelabuhan Pandan Bahari.
Lima belas menit
berlalu, pompong Pak RT yang ditunggu-tunggu tak juga kelihatan.
Tiba-tiba ponsel Maria berbunyi, bertanda sms masuk. ''Bu, nanti bapak
jemput sekalian antar teri,''kata Maria membaca sms dari Yayang, anak
Muhtar.
Maria pun kembali menunggu di pelantar. Karena yang ditunggu
tidak juga datang, Maria pun berinisiatif menyewa pompong nelayan yang
sejak tadi bersandar di pelantar. Sebuah pompong kecil akhirnya mau
mengantarkan Maria ke pulau yang dikenal sebagai tempat tinggalnya
orang-orang Suku Laut.
Pompong yang hanya berjarak sejengkal dari air
laut itu membawa Maria dalam hitungan dua puluh menit saja ke pulau
Bertam. ''Saya sudah biasa seperti ini. Keliling dari satu pulau ke
pulau lain ngasih ceramah agama. Tapi sejak badan saya ngak kuat lagi
kena angin laut, saya hanya pergi ke pulau Bertam, ngajar anak-anak juga
pengajian dengan ibu-ibunya,''kata Maria di atas pompong.
Empat
tahun sudah, Maria bolak-balik Tanjunguncang-Pulau Bertam. Mengajari
anak-anak bahasa Inggris. Maria mengaku ingin sekali memberi sesuatu
yang beda dari yang ada saat ini. ''Saya asli orang Maluku Tenggara. Di
daerah kami, bahasa Inggris dan bahasa Belanda menjadi bahasa percakapan
sehari-hari. Makanya Bahasa Inggris saya cukup baik. Inilah jadi modal
saya mengajari anak-anak di pulau,''kata wanita yang kakeknya seorang
Belanda.
Siang itu, tak seperti biasa. Maria harus menunggu
murid-muridnya di rumah Muhtar, RT pulau Bertam. ''Biasanya saya masih
ditengah laut, mereka sudah menunggu. Ada dua puluhan anak yang belajar
dengan saya. Mulai dari umur 5 tahun sampai 12 tahun,''kata wanita yang
tidak lulus SMA namun sekolah di pesantren.
''Lagi pada di acara
pengantin. Makanya anak-anak belum datang. Sebentar lagi dipanggil,''
kata Nurmadiyah, istri Muhtar sambil menghitung uang ribuan dari hasil
menjual bers bulog.
Acara pernikahan menjadi hiburan penduduk pulau
Bertam, pulau Gara, pulau Linga dan pulau-pulau kecil disekitarnya.
Mereka datang berbondong-bondong melihat hiburannya. Di pelantar pulau
Bertam saja, lalu lalu pompong membawa penduduk sekitar. Mereka datang
dengan pakaian ala kadarnya. Ada yang mengenakan celana pendek dipadu
kaos u can see, baju tidur juga baju rumah yang warnanya lusuh.
Menjelang
pukul 15.00 WIB, satu persatu murid Maria berdatangan. Bocah-bocah
berkulit hitam legam masuk kedalam rumah Muhtar sambil membawa buku
tulis dan pensil. Fitri (11)datang dengan adiknya, Lara (5). Menyusul
Mona (7) datang hanya mengenakan kaos singlet kumal. Juga Lusiana (8).
Ratna (11) menjadi murid terakhir yang datang.
Bocah berbadan subur ini
baru duduk di kelas 2 SD walau umurnya 11 tahun. Di ruang tengah rumah
panggung Muhtar itu, Maria mengajak lima muridnya duduk. Menghadap papan
tulis yang baru dua minggu ini dibelikan BP Kawasan. ''Saya minta
bantuan ke OB. Karena kasihan lihat anak-anak. Sekarang mereka makin
semangat belajar. Berebut menulis di whiteboard,''kata wanita kelahiran
tahun 1972 ini. Maria pun bercerita bahwa ia selalu membeli karton untuk
dijadikan papan tulis. Karton itu dibelinya dengan harga Rp8000. Setiap
kali mengajar, setiap kali itu juga, karton baru harus disediakan
Maria. Anak-anak juga hanya diberi selembar kertas folio untuk menulis
materi yang diajarkan.
Maria memang harus mengeluarkan uang sendiri.
Bahkan transportasi pun ia tanggung. ""Ya minimal Rp50 ribu untuk
ongkos pulang pergi. Naik angkot dari rumah saya di tiban kampung sampai
ke Tanjunguncang. Kemudian ongkos pompong. Saya sering ngasih untuk
ganti uang minyak pompong,''kata wanita yang menjadi mualaf sejak duduk
di bangku SMU.
Maria yang tidak memiliki pekerjaan tetap ini yakin
tetap bisa menjalankan misinya. Ia percaya rezeki pasti datang. Maria
memang dikenal sebagai ustazah, pemberi ceramah agama di pengajian
ibu-ibu.
Seminggu dua kali, Maria pasti turun ke pulau Bertam. Dua
anaknya , Franli Leonardo (9) dan M. Omensyah (8) dititipkan di panti
asuhan di Tiban.
Dulu sewaktu kedua anaknya masih kecil, yang bayi
dititipkan pada pak RT di Tiban Kampung, anaknya sulungnya dibawa. ''Si
abang saya gendong. Waktu itu umurnya masih satu tahun. Anak saya
pernah kecebur laut. Dia tiba-tiba jatuh . Untungnya ada yang cepat
nolong. Anak saya ngak apa-apa. Sekarang, mereka tidak pernah saya ngak
ajak lagi. Saya titipkan saja di panti asuhan di Tiban,''kata Maria
yang kini menjadi single parent sejak suaminya meninggal dunia.
Sore
itu, si bungsu tiba-tiba menelpon. Dari obrolan di telpon itu, kedua
anaknya minta Maria segera menjemput. "Si adek nangis, katanya udah
kangen maminya,''kata Maria.
Maria mengaku sudah menitipkan anaknya
sejak dua hari. Karena ia harus ke pulau Bertam mengurus surat
penunjukkan dirinya menjadi pengajar di pulau Bertam dan menginap di
sana.
''Bu ayo ajarin nyanyi,''kata Lara tiba-tiba membuyarkan
lamunan Maria. Mariapun segera bersenandung. Sebuah lagu ciptaannya
sendiri ia ajari pada kelima siswanya. ''Nanti kalian siap-siap ikut
rekaman ya,''kata Maria pada siswanya.
Sudah beberapa bulan ini Maria
sedang menyiapkan album lagu. Ia ciptakan sendiri baik itu kata-katanya
juga musiknya. Ada enam lagu yang selesai di aransemen. Seperti
Sayangku, bulan bintang, doa bunda, ya Allah, biarkan ku pergi dan
kekasihku. ''Lagu-lagu ini sudah bisa didengar. Karena sudah direkam di
cd,''kata Maria sambil memperlihatkan sekeping cd.
Nantinya kata
Maria, anak-anak suku laut akan ikut bernyanyi. Dari hasil penjualan
album ini akan disumbangkan untuk pendidikan anak-anak suku laut. Sekarang,
kata Maria, ia akan konsentrasi dulu di pulau Bertam, selanjutnya ia
juga akan mengajar anak-anak di pulau Gara dan Lingka. "Kan jaraknya
juga ngak jauh dari pulau Bertam. Kasihan kan kalo tidak ada yang
memberi pelajaran tambahan pada mereka.
Maria mengaku sedih melihat
keseharian anak-anak suku laut. Banyak yang putus sekolah. Rata-rata
sekolah dasar saja. Tapi ada juga yang tidak sekolah. Mereka lebih
memilih cari ikan. ''Kalau Magrib, mereka sulit diajak belajar atau
mengaji. Mereka lebih memilih melaut. Biasanya udah pada bawa alat
pancing,''kata Maria.
Apalagi ditambah kondisi listrik yang belum
ada. ''Genset saya sudah rusak. Sudah tiga tahun dibeli. Dan sudah
beberapakali diperbaiki. Kalau lagi bagus, genset itu hanya bisa
menerangi 16 rumah saja. Itupun sampai pukul 12 malam,''kata Muhtar yang
sudah menetap di darat sejak tahun 1984. Setiap warga yang ingin
rumahnya diterangi listrik membayarkan uang sebesar Rp5000 perhari.
Kadang,
disaat anak-anak sedang belajar, genset tiba-tiba rusak. Muhtar mengaku
tak punya pilihan lagi. Untuk membeli genset baru, ia mengaku belum
punya dana lagi. Ia berharap ada pihak-pihak yang berbaik hati dan
perhatian pada pendidikan anak-anak suku laut mau menyumbangkan genset
ke pulau Bertam.
Saat ini di pulau Bertam, jumlah kepala keluarga
mencapai 50 kk. Kebanyakan tinggal di tepi pantai dengan mendirikan
rumah panggung. Rumah-rumah tersebut dibangun oleh Otorita Batam tahun
1998.
''Waktu itu pak Soedarsono yang bangun rumah-rumah orang suku laut
disni. Baik itu yang di pulau Gara, Bertam juga Lingka),''kata Muhtar.
Kondisi rumah yang dibangun OB itu ada yang sudah rusak. Tapi ada yang
tetap ditempati. Kalau sekarang penduduk di pulau Gara sekitar 50 kk, di
pulau Lingka 50 kk. Mereka semua orang suku laut, yang tadinya tinggal
di perahu. Muhtar bahkan masih ingat saat-saat tinggal di perahu.
Berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Berbeda dengan
Nurmadiyah, istrinya, yang sudah mulai suka tinggal di darat saat
remaja. Ia senang ketika ada yang mengajarinya menjahit dan membuat
kue. ''Saya ingin maju,''kata ibu dari Yayang (30) dan Azan (23), guru
honorer di SD 006 Pulau Bertam. ***